Jumat, 21 November 2014

mancing di wonosobo

MEMANCING DI WONOSOBO YUK !

Wonosobo, tahu kan ? Kabupaten di Jawa Tengah berhawa dingin , daerah pegunungan di mana Sungai Serayu berasal. Daerah dimana sumber air berlimpah, segar, tetapi masih saja butuh alokasi pengeluaran untuk membayar tagihan PAM. He…he.
Kalau anda tidak mengenal Wonosobo, mungkin tempat seperti Dieng, Tuk Bimolukar, Gunung Sindoro, Perkebunan Teh Tambi, Telaga Menjer, Kalibeber, Kaligintung, Waduk Wadaslintang, Mie Ongklok, Carica bisa mengingatkan anda bahwa ternyata anda sudah pernah menginjakkan kaki di Wonosobo.
Banyak tempat dimana kita bisa melakukan aktivitas memancing di Wonosobo, diantaranya di :
1.   Telaga Sembungan,Telaga Warna, Telaga Merdada.
Dengan karakteristik seperti rawa (Sembungan) sehingga proses memancing harus merendam kaki kita di dalam tanah gembur berair hingga bisa sebatas lutut kita jika kita tidak aktif bergerak ke kanan kiri tempat kita berpijak. Biasanya orang memancing di sini menggunakan papan-papan yang dijadikan alat untuk memperluas penahan beban kaki kita agar tidak mudah terendam, ikan mas dengan berat bisa sampai 10 kg sangat mendominasi di sini disamping ikan-ikan kecil yang di sini disebut ikan mendong atau istilah lainnya wader pari, atau kadang ada juga ikan lele. Memancing di Telaga Sembungan memerlukan sensitivitas kita untuk bereaksi dengan cerukan-cerukan di antara rerumputan yang berada di sekitar kita, tempat ikan menyembul di permukaan air untuk mencari makan. Keahlian melempar dengan ketepatan point yang dituju sangat mempengaruhi proses kita mengentaskan kemiskinan, eh ikan ! Ikan mas berpindah dari satu tempat berair  tanpa tumbuhnya rerumputan dari satu tempat ke tempat lainnya melalui akses jalan di bawah permukaan air yang ditumbuhi rumput. Cacing kalung yang dipasang utuh dengan pelampung dan pemberat besar yang dipasang tidak terlalu dalam sekitar satu ukuran jarak ujung kelingking hingga ujung jempol yang terjauh ( sekitar 10 cm ) untuk memudahkan meluncurnya tali senar dari joran ke point dimana terdengar kecipak air pertanda adanya ikan, atu tanda lain seperti rumput yang bergoyang karena tersenggol ikan emas. Ikan akan segera bereaksi menelan umpan yang ada jika kita tepat melemparkan di depan moncong putih, eh moncong mulut ikan. Diperlukan juga ketelatenan dan kecerdikan kita untuk mengarahkan ikan yang akan didaratkan melalui jalur yang memungkinkan agar ikan atau mata kail yang kita lempar tadi tidak menyangkut pada batang tanaman atau membelit kumpulan rerumputan. Hawa dingin menuntut kita juga untuk selalu bergerak agar kehangatan badan tetap terjaga, terkadang gerimis atau kabut muncul tiba-tiba membuat kita harus mengambil keputusan untuk tetap memancing atau berteduh di gubuk-gubuk petani setempat menyimpan “lemi” atau pupuk kandang yang digunakan untuk tanaman kentang mereka.( Kentang lho ! Bukan Kenthuang ! Orang Wonosobo asli pasti cuma tersenyum!).
Bedakan juga gerakan rumput di sekitar kita, bisa jadi yang berada di sekitar itu adalah bebek liar atau “mliwis”, yang bisa juga memakan umpan kail kita, kalau sampai itu yang terjadi kan, kasihan. Usahakan keberadaan bebek liar ini tetap terjaga. Hidup bebek !
2.   Telaga Menjer.
Aktivitas memancing digabungkan dengan indahnya panorama tergabung di sini, Telaga Menjer, terletak kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota Wonosobo. Kalau sempat, kita bisa menikmati segarnya suasana segarnya perkebunan teh di sebelah atasnya sambil memandang ceruk danau Menjer yang memantulkan sinar matahari bagaikan cermin yang menangkap dan menyimpan kumpulan awan di atasnya.
Kita bisa memancing di telaga ini dengan cara memakai perahu atau ”gethek”yang bisa kita sewa dengan kisaran harga Rp. 20.000an, atau dengan memilih hotspot yang berada di pinggiran telaga. Ikan mas, nila, mendong sangat banyak di sini, tergantung fokus kita mau memancing yang mana. Memancing mendong dengan banyak pilihan metode, mulai dengan merangkai kail lembut yang banyak tanpa umpan, memancing dengan umpan cacing ataupun kroto yang telah dikukus agar tidak mudah pecah. Karena mulutnya yang kecil, pilihan bait, atau mata kail lembut sangat mempengaruhi kuantitas hasil pancingan. Ada juga ikan kecil rakus lainnya yang oleh masyarakat setempat disebut ”nyoho”, ikan yang bentuknya mirip dengan ”uceng”, atau lele tapi kecil dan tidak bisa besar, berukuran paling besar seperti jari kelingking. Ikan nila dipancing dengan umpan lumut yang dipasang pelampung agak dalam sekitar 1-2 meter dan diarahkan di daerah sekitar pintu masuknya air ke telaga. Ikan mas dipancing dengan menggunakan umpan rebusan singkong yang dibikin adonan, atau dengan menggunakan butiran jagung manis muda yang di lemparkan di hotspot tertentu, tenggelam hingga ke dasar danau tempat jalur ikan mas biasa hilir mudik melakukan aktivitasnya di dasar danau. Di telaga ini ada mitos juga ditemui ikan berukuran sangat besar, kadang berbaris berurutan dari ukuran yang paling kecil hingga yang paling besar. Mitos lain sebagai bumbu adalah jangan pernah pacaran di sini, dijamin hubungan tidak akan lama ( he…he ), yang ini sudah saya buktikan sendiri, nggak pacaran sih, cuma karena keseringan mancing di sini, saya belum ketemu jodoh sampai sekarang, ada yang mau jadi mak comblang ? Atau malah mau jadi mak mertua kali?
Hiburan lain yang sering dijadikan intermezzo bersama kawan-kawan pada saat memancing di sini adalah kita disuguhi beberapa adegan berpacaran dari pasangan-pasangan entah itu pacarnya sendiri, atau selingkuhannya di beberapa hotspot tertentu, yang membuat kami bergumam dalam hati,” Hai, anak muda (ada yang tua juga kadang), segeralah menikah kalo udah punya kemampuan/kesempatan dan kalo itu cuma selingkuhanmu! Sadarlah, kesetiaan pasangan sebenarmu telah ternodai”.
3.   Nah ini dia tempat favorit memancing saya, sepanjang aliran Sungai Serayu, buanyak sekali hotspot di sepanjang aliran sungai ini. Masyarakat menyebutnya ”kedhung”, tempat di bagian air yang dalam, biasanya berada pada kelokan alur sungai yang tergerus hantaman aliran air yang menciptakan rongga di pinggiran batas tanah dan air dalam air, kadang menimbulkan adanya pusaran air tempat ikan-ikan besar tinggal mencari makan. Banyaknya”kedhung” akan coba saya dokumentasikan satu persatu dari atas sepengetahuan saya, mulai dari start awal aliran sungai Serayu yang sudah berada di sepanjang jalan Wonosobo-Purwokerto karena hubungannya dengan kemudahan aksesnya. Lokasi pertama di daerah Selokromo di belakang gudang kayu sebelah pencucian mobil, disini sungai sudah mulai lebar, tidak terlalu dalam dan air mengalir lebih deras sesuai dengan kedalaman yang kurang, banyak ikan ”lempon” tawes, lele, kutuk dan melem. Umpan standar sungai, bisa cacing, adonan roti kuning/sisir, singkong, atau makhluk hidup air lainnya, favorit saya sih ”yuyu umbur” yaitu kepiting air tawar dengan tubuh yang empuk. Lokasi terletak di bawah tebing dengan posisi enak untuk sekalian bercengkerama apabila kita memancing beserta rombongan. Sebenarnya di atas start point ini ada beberapa lokasi menarik sebelum point bertemunya sungai Serayu dengan sungai Semagung  yang mengalir dari kota Wonosobo maupun sungai lain yang berasal dari Kecamatan Kertek yaitu sungai Kawung dan sungai Made di Silundu, Menjangan, Krasak, Gunung Tawang. Dibawah Selokromo kita akan sampai di daerah Jegkol, Liyer, Tunggoro, Prigi, Randegan, Mangunan, Brayut, Singomerto sampai memasuki bagian dari wilayah Kabupaten Banjarnegara. Semua memiliki karakteristik yang hampir sama baik jenis ikan, umpan maupun tekniknya. Teknik yng lumrah di sini adalah dengan pelampung umpan lumut yang dilempar ke bagian atas aliran sungai untuk dihanyutkan ke bawah menunggu disambar ikan, teknik tenggelam dengan pemasangan banyak kail yang masing-masing diberi umpan, bisa adonan roti, cacing yang diberi pemberat agar tetap berada di posisi dasar sungai yang kita perkiraan sumber berkumpulnya ikan besar, teknik menggunakan tempurung kelapa yang dibuat bundar dengan lubang-lubang tempat tali senar masuk, pemasangan umpan berupa adonan roti di belakang lempengan tempurung kelapa, kemudian kail kita pendam di dalam gumpalan adonan dengan posisi yang paling memungkinkan menjerat ikan sebelum dilemparkan ke hotspot yang telah kita tuju. Teknik ini disebut”mbathok”. Teknik standar lain adalah ”nutul”, dengan cara biasa, umpan berupa roti atau cacing dipasang di mata kail yang tajam kemudian kita tahan dalam kedalaman yang kita iginkan, melayang memanggil ikan untuk menyambar, teknik ini membutuhkan konsentrasi, sensitivitas terhadap gerakan atau sentuhan terhadap umpan, biasanya teknik ini menganjurkan ujung joran yang sangat lentur agar sentuhan sekecil apapun terhadap umpan akan langsung terasa dan terlihat dan dengan cepat kita harus menyentakkan joran agar kail menyangkut di mulut korban. Di sepanjang sungai ini masih banyak kita jumpai rombongan kurang ajar yang menangkap ikan dengan cara”nyetrum” dan ”ngobat”, dan kadang kita sebagai pemancing pendatang tidak bisa berbuat lebih banyak menegur mereka, apalagi kalau jumlah mereka lebih banyak dan ditambah mereka pada umumnya penduduk desa setempat terdekat. Biasanya sih, kami berkemas-kemas, ambil posisi serang lalu lempari sungai dengan batu besar ke dalam sungai sambil ngacir tertawa dongkol, sungai kita lempari batu besar, rangnya kita lempari kerikil, biji salak yang memang banyak tumbuh yang sebelumnya kita embat atau dengan biji duren yang juga memang banyak. Biar kapok !!
4.   Waduk Wadaslintang
Waduk Wadaslintang merupakan habitat yang cocok bagi banyak jenis ikan, nila, mas, hampala, kuthuk, gurame. Buaya juga ada disini ( yang memegang joran maksudnya ), Variasi teknik dan umpan standar, tetapi paling mudah adalah dengan memakai lumut kabut yang ditaruh di dasar waduk di daerah tertentu yang memang diakui banyak ikan berkumpul. Karena lokasi agak jauh, memancing di waduk Wadaslintang perlu persiapan lebih, dan standarnya sih kita harus paling nggak menginap di tempat, menyediakan logistik, lampu penerang, persiapan jikalau terjadi hujan. Masalah makan sih sudah banyak warung di sekitar atau bahkan sudah banyak pula pedagang makanan yang setia berkeliling di sekitar waduk menawarkan dagangannya kepada para pemancing yang memang banyak sekali beraktivitas membuang jenuh atau menjadikannya mata pencaharian di sana. Nasi ada, lauk ada, rokok ada, lumut untuk ikan pun juga ada. Lokasi memancing juga tersebar, bisa di mana saja, Cuma memang ada tempat tersendiri yang diakui banyak orang banyak terdapat ikannya, tiap orang memliki tempat favorit tersendiri. Ada yang di Tritis, Erorejo atau dalam lokasi wisatanya dekat dengan lokasi keluarnya air dari waduk. Karena perjalanan yang jauh, efektifitas dan efisiensi dalam memancing diwujudkan dengan membawa perlengkapan memancing yang komplit dan banyak, paling nggak kita membawa minimal 5 joran dan reel sekaligus untuk dipasang dalam posisi standby menunggu disentuh ikan sebelum kita sentakkan dan hajar ikannya sampai ke daratan, atau bahkan sampai ke penggorengan di rumah, atau mungkin sampai ke dalam perut kita sebelum dikecap nikmat rasanya oleh lidah kita untuk kemudian dimanfaatkan oleh segenap organ tubuh menjadi sumber energi aktivitas kita sehari-hari. Jadi… makanan yang masuk dari mulut dan dikunyah oleh gigi sampai lembut, akan turun ke dalam lambung untuk mengalami proses, !!@??’: lho kok malah nerangin sistem pencernaan ? Sorry !
5.       Anytime, anywhere
Lokasi terakhir yang juga menarik dan paling memungkinkan kita bisa memperoleh ikan dalam jumlah banyak berada tersebar di segenap penjuru di wilayah Wonosobo. Proses memancing di tempat ini memerlukan stamina yang bagus, pandangan mata yang tajam, pendengaran yang sensitif, kewaspadaan dan konsentrasi tinggi, mengharuskan kita selalu menengok ke kanan dan kiri setiap saat. Aktivitas bisa dilakukan baik pada siang maupun malam hari, tergantung situasi dan kondisinya. Akan lebih bagus lagi kalau kita telah mempelajari kebiasaan dan jadual petugas ronda setempat, karena hotspot yang satu ini adalah kolam atau empang milik tetangga, kolam Mas Jito, kolam milik Mbah Sastro, kolam milik bapak teman kita sendiri yang nanti setelah ikan yang didapat dibakar bersama-sama di pos ronda dia juga ikut-ikutan makan tanpa mengetahui kalau ikan yang dibakar milik bapaknya sendiri. ”Enak Gun?”, Gunawan menjawab,”Enake pol !” Rombongan panitia pemancing menjelaskan,” Ya, iyalah ! Ikan punya kamu sendiri kok !”
Memancing di tempat ini sangat beresiko, namanya juga nyolong, selalu ada resikonya. Dan saya nggak bertanggung jawab atas apapun  yang bakal terjadi menimpa anda jika melakukan strike di tempat ini, ada ikan yang merambat melalui tembok, ada ikan yang tersangkut di pagar dan kejadian lucu, aneh lainnya Yang jelas sebaiknya memancing di tempat ini jangan pernah dilakukan coy, mendingan ciptakan suasana harmonis, kerukunan antar warga sekitar. Lagian daripada nyolong ikan, masih repot bakar, mendingan nyolong jambu atau nangka tetangga juga, bisa langsung dimakan…he..he..he.

Jumat, 23 Mei 2014

Cara Mengetahui Nomor Ponsel sendiri


Berikut ini cara mudah untuk mengetahui nomor ponsel sendiri :
Cara cek nomor Indosat (IM3 dan Mentari)
Ketik : *777*8# lalu Yes / Call
Cara cek nomor  XL
Ketik : *123*22*1*1# lalu Yes / Call
Cara cek nomor Telkomsel (Simpati dan As)
Ketik : *808# lalu Yes / Call
Cara cek nomor Axis
Ketik : *2# lalu Yes / Call
Cara cek nomor  Three
Ketik : *998# lalu Yes / Call
Cara cek nomor CDMA (Flexi, Esia, StarOne, Smart dan Fren). Pasang simcard di ponsel Nokia, lalu ketik : *3001#kode pengaman# . Contoh : *3001#12345# Lalu tunggu sampai keluar Menu, pilih NAM1 kemudian geser kebawah pilih “Own number (MDN)“
Cara tersebut hasil sharing dengan teman dan sudah saya praktekkan dan masih bisa dipakai. Semoga berguna.